Hal ini diungkapkan Ketua Tim Evaluasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Diskominfo Kota Bandung, Ganjar Setya Pribadi dalam Sonata Talkshow bertajuk “Layanan Digital Kota Bandung: Makin Mudah, Makin Nyaman”, Kamis, 6 Agustus 2026.
"Kalau melihat penetrasi digital di Kota Bandung, pengguna internetnya sudah cukup tinggi, lebih dari 80 persen. Artinya, kebutuhan terhadap masyarakat layanan digital juga sudah cukup besar. Karena itu, layanan Pemerintah Kota Bandung memang perlu terus beradaptasi dan masuk ke saluran digital sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan penggunanya,” kata Ganjar dikutip dari siaran pers Humas Pemkot Bandung.
Lebih lanjut Ganjar mengatakan penggunaan teknologi tidak boleh hanya berorientasi pada pembuatan website atau aplikasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi mampu mengubah pola dan budaya kerja sehingga memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan.
“Intinya adalah bagaimana kita mengubah budaya kerja. Jadi, transformasi digital itu bukan sekedar membuat website atau aplikasi, lalu selesai,”
“Teknologi harus menjadi bagian dari perubahan cara kita bekerja, sehingga proses yang sebelumnya manual bisa menjadi lebih efektif, efisien, dan pada akhirnya memberikan pelayanan yang lebih mudah dan nyaman bagi masyarakat,” sambungnya.
Menurutnya transformasi digital bukan berarti seluruh layanan tatap muka harus dihilangkan. Masih terdapat masyarakat yang membutuhkan pelayanan secara langsung sehingga pemerintah perlu menyediakan pilihan layanan yang sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok masyarakat.
“Transformasi digital bukan berarti seluruh layanan harus meninggalkan layanan tatap muka. Masih ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan secara langsung. Jadi, pendekatannya bukan menggantikan layanan konvensional sepenuhnya, tetapi menyediakan pilihan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” pungkas Ganjar. (Yatni Setianingsih/Golali.id)
