Langsung ke konten utama

Resep Sambal Goreng Kentang Ati khas Sunda

 

BANDUNG,(Golali) - Sambal goreng kentang ati adalah salah satu menu istimewa dalam kuliner Sunda. Sajian sambal goreng kentang ati biasanya hadir dalam perayaan Idul Fitri, Idul Adha, dan resepsi atau hajatan pernikahan dan khitanan.

Inilah resep sambal goreng kentang ati

Bahan resep sambal goreng kentang ati

250 gram kentang, potong dadu 

200 gram ati ayam atau ati sapi, rebus lalu potong-potong dadu 

1 papan petai, buka dari cangkangnya dan potong menjadi 4 bagian 

250 gram minyak goreng 

100 ml santan kental 

3 lembar daun salam 

5 cm lengkuas, geprek 

1 batang serai, geprek 

Gula merah secukupnya 

Bumbu halus resep sambal goreng kentang ati

1 siung bawang putih  

2 siung bawang merah 

2 buah cabai merah, buang bijinya

25 gram kemiri 

Garam sesuai selera 

Cara memasak resep sambal goreng kentang ati

1. Goreng kentang setengah kering 

2. Tumis bumbu halus masukkan lengkuas, daun salam, dan serai 

3. Tambahkan santan kental, lalu aduk hingga mendidih 

4. Masukkan kentang, aduk sesekali

5. Tambahkan potingan ati dan aduk kembali, tambahkan gula merah

6. Masak dengan menggunakan api kecil hingga airnya habis, terakhir masukkan potongan petai

7. Angkat dan sajikan

(Yatni Setianingsih/Golali.id)


BANYAK DIBACA

Sejak Kapan ITB Ultra Marathon Digelar?

BANDUNG,(Golali) - ITB Ultra Marathon telah digelar setiap tahun sejak 2017, rute pada ITB Ultra Marathon dimulai dari Jakarta dan finish di Kota Bandung. Jarak rute ITB Ultra Marathon yaitu 170 – 180 kilometer. Dimulai dari Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Cipatat-Padalarang-Cimahi-Bandung. “Melalui ITB Ultra Marathon yang digelar sejak 2017, jumlah peserta meningkat dari tahun ke tahun. Mereka bisa berinteraksi dengan sesama alumni sehingga kebersamaan alumni, sivitas akademika ITB, dan umum itu bisa terjalin dan membangkitkan cinta almamater,” kata Ketua Yayasan Solidarity Forever, Ir. Susilo Siswoutomo dikutip dari siaran pers yang diterima Golali, Minggu 28 September 2025. Mengutip siaran pers yang dirilis ITB pada tahun 2025, ITB Ultra Marathon ini adalah prakarsa Yayasan Solidarity Forever yang dibentuk alumni Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, sejak awal tahun 2016. Ide diadakannya acara ini sendiri digagas oleh salah satu alumni FTMD, Gatot Sudariyono. Tujuan dari IT...

Ekspor Shopee FLEXI Tambah Jangkauan Negara di Asia Tenggara

JAKARTA,(Golali) - Shopee menambah negara tujuan pada program Ekspor Shopee FLEXI, melalui peluncuran program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’. Sebelumnya sejak diluncurkan pada pertengahan tahun 2025, Ekspor Shopee FLEXI baru menjaungkau wilayah Malaysia, lewat program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ yang diluncurkan pada 27 Oktober 2026, Shopee menambah 4 negara di Asia Tenggara yaitu Singapura, Filipina, Tailan, dan Brunei Darussalam.  Pada program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ ini, Shopee berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan mitra logistik Anteraja serta JNE. Selain itu, Shopee juga menghadirkan pembaruan fitur Program Ekspor Shopee FLEXI, menyelenggarakan pelatihan spesial Program Ekspor Shopee FLEXI, serta memfasilitasi program Seller Immersion ke Malaysia untuk memperkuat kapabilitas ekspor pengusaha lokal.  Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang menjelaskan perluasan jangkauan dan penguatan kapasitas penjual menja...

Sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1)

Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) yang ditulis Ojel Sansan Yusandi, mengisahkan tentang siapa saja yang menghuni Bandung, sebelum bernama Bandung seperti yang dikenal saat ini. Melansir dari akun instagram @lawangbuku inilah sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) : Siapakah penghuni Bandung sebelum nama Bandung ada di atas panggung sejarah? Apakah Bandung sama dengan Tatar Ukur? Benarkah Kabupaten Bandung lahir dari “rahim sejarah yang berdarah-darah” akibat perseteruan politik tingkat tinggi antara Dipati Ukur dkk versus Sultan Agung Mataram di abad XVII? Melalui buku ini kita juga akan saksikan bahwa sepanjang abad XIX, Bandung masih merupakan “kampung kecil” tak penting dengan jalanan berdebu, kerap dilalui maung, penuh kubangan badak. Ya, Bandung sebelum abad ke-20 sangat pangling, jauh berbeda dengan Bandung yang kini kita kenal.(Yatni Setianingsih/Golali.id) Data Buku : Judul Buku      ...