Langsung ke konten utama

Resep Borondong Wajit

KABUPATEN BANDUNG,(Golali) - Borondong wajit atau borondong ketan adalah salah satu makanan khas Sunda, yang terbuat dari borondong jagung dengan isian wajit.

Begini resep borondong wajit 

Untuk membuat borondong wajit terdiri dari tiga langkah :

- Pembuatan wajit 

- Pembuatan borondong 

- Pembuatan borondong wajit atau borondong ketan 

A. Bahan resep wajit 

1 kilogram beras ketan putih 

1 liter santan kental 

1/4 gram kelapa parut

1/2 kilogram gula merah 

1/4 gula putih 

1/2 sendok teh garam halus 

1 sendok makan minyak sayur 

Cara membuat resep wajit  

1. Cuci beras ketan dalam boboko di bawah air mengalir

2. Rendam beras ketan selama satu malam, kemudian cuci kembali dan tiriskan 

3. Tanak beras ketan, angkat dan dinginkan

4. Rebus santan dan aduk hingga mendidih, tambahkan gula merah, lalu gula putih dan garam sambil terus aduk. 

5. Tambahkan kelapa parut dan beras ketan, terus aduk hingga semuanya tercampur dan kandungan airnya habis 

6. Angkat dan dinginkan 

B. Bahan resep borondong 

500 gram jagung lalu sangrai menggunakan alat khusus yang biasanya disebut beledug 

C. Cara membuat borondong wajit 

1. Menggunakan tangan yang telah diolesi minyak sayur, bentuk wajit seukuran kelereng 

2. Gulingkan seluruh permukaan wajit pada borondong jagung 

3. Lakukan hingga semua bahan habis

4. Masukkan borondong wajit dalam toples yang kedap udara

(Yatni Setianingsih/Golali.id)  


 

BANYAK DIBACA

Sejak Kapan ITB Ultra Marathon Digelar?

BANDUNG,(Golali) - ITB Ultra Marathon telah digelar setiap tahun sejak 2017, rute pada ITB Ultra Marathon dimulai dari Jakarta dan finish di Kota Bandung. Jarak rute ITB Ultra Marathon yaitu 170 – 180 kilometer. Dimulai dari Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Cipatat-Padalarang-Cimahi-Bandung. “Melalui ITB Ultra Marathon yang digelar sejak 2017, jumlah peserta meningkat dari tahun ke tahun. Mereka bisa berinteraksi dengan sesama alumni sehingga kebersamaan alumni, sivitas akademika ITB, dan umum itu bisa terjalin dan membangkitkan cinta almamater,” kata Ketua Yayasan Solidarity Forever, Ir. Susilo Siswoutomo dikutip dari siaran pers yang diterima Golali, Minggu 28 September 2025. Mengutip siaran pers yang dirilis ITB pada tahun 2025, ITB Ultra Marathon ini adalah prakarsa Yayasan Solidarity Forever yang dibentuk alumni Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, sejak awal tahun 2016. Ide diadakannya acara ini sendiri digagas oleh salah satu alumni FTMD, Gatot Sudariyono. Tujuan dari IT...

Ekspor Shopee FLEXI Tambah Jangkauan Negara di Asia Tenggara

JAKARTA,(Golali) - Shopee menambah negara tujuan pada program Ekspor Shopee FLEXI, melalui peluncuran program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’. Sebelumnya sejak diluncurkan pada pertengahan tahun 2025, Ekspor Shopee FLEXI baru menjaungkau wilayah Malaysia, lewat program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ yang diluncurkan pada 27 Oktober 2026, Shopee menambah 4 negara di Asia Tenggara yaitu Singapura, Filipina, Tailan, dan Brunei Darussalam.  Pada program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ ini, Shopee berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan mitra logistik Anteraja serta JNE. Selain itu, Shopee juga menghadirkan pembaruan fitur Program Ekspor Shopee FLEXI, menyelenggarakan pelatihan spesial Program Ekspor Shopee FLEXI, serta memfasilitasi program Seller Immersion ke Malaysia untuk memperkuat kapabilitas ekspor pengusaha lokal.  Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang menjelaskan perluasan jangkauan dan penguatan kapasitas penjual menja...

Sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1)

Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) yang ditulis Ojel Sansan Yusandi, mengisahkan tentang siapa saja yang menghuni Bandung, sebelum bernama Bandung seperti yang dikenal saat ini. Melansir dari akun instagram @lawangbuku inilah sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) : Siapakah penghuni Bandung sebelum nama Bandung ada di atas panggung sejarah? Apakah Bandung sama dengan Tatar Ukur? Benarkah Kabupaten Bandung lahir dari “rahim sejarah yang berdarah-darah” akibat perseteruan politik tingkat tinggi antara Dipati Ukur dkk versus Sultan Agung Mataram di abad XVII? Melalui buku ini kita juga akan saksikan bahwa sepanjang abad XIX, Bandung masih merupakan “kampung kecil” tak penting dengan jalanan berdebu, kerap dilalui maung, penuh kubangan badak. Ya, Bandung sebelum abad ke-20 sangat pangling, jauh berbeda dengan Bandung yang kini kita kenal.(Yatni Setianingsih/Golali.id) Data Buku : Judul Buku      ...