Langsung ke konten utama

Resep Pais Suung


BANDUNG,(Golali) - Pais suung (pepes jamur-dalam bahasa Indonesia) adalah salah satu makanan khas Sunda, yang dimasak dengan cara dikukus dengan terlebih dahulu jamur (suung) dibumbui dan dibungkus daun pisang. 

Jamur yang biasanya digunakan dalam pembuatan pais jamur yaitu jamur merang atau jamur tiram.

Inilah resep pais suung 

Bahan resep pais suung  

200 gram suung, siangi

2 lembar daun salam

5 centimeter lengkuas iris tipis

1 batang serai iris tipis

100 gram daun kemangi siangi

2 batang daun bawang iris tipis

1 buah cabai merah buang bijinya dan iris tipis

Bumbu halus resep pais suung 

50 gram kunyit

10 gram merica

20 gram ketumbar

10 siung bawang merah

5 siung bawang putih

2 sendok makan garam

1/2 sendok teh gula pasir

Bahan bungkus pais suung 

2 lembar daun pisang

6 buah tusuk gigi untuk penyemat

Cara membuat resep pais jamur

1. Campurkan bumbu halus, jamur, daun kemangi, daun bawang, lengkuas, serai, dan cabai merah dalam baskom. Aduk-aduk hingga tercampur rata

2. Siapkan daun pisang, taruh dua sendok jamur dengan semua campurannya dalam daun pisang 

3. Bentuk pincuk dan semat bagian atas pincuk daun pisang dengan tusuk gigi

4. Panaskan kukusan selama 15 menit

5. Masukkan pais suung dalam kukusan. Kukus sekitar 30 menit

6. Angkat dan sajikan dengan nasi hangat yang pulen.(Yatni Setianingsih/Golali.id) 

BANYAK DIBACA

Sejak Kapan ITB Ultra Marathon Digelar?

BANDUNG,(Golali) - ITB Ultra Marathon telah digelar setiap tahun sejak 2017, rute pada ITB Ultra Marathon dimulai dari Jakarta dan finish di Kota Bandung. Jarak rute ITB Ultra Marathon yaitu 170 – 180 kilometer. Dimulai dari Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Cipatat-Padalarang-Cimahi-Bandung. “Melalui ITB Ultra Marathon yang digelar sejak 2017, jumlah peserta meningkat dari tahun ke tahun. Mereka bisa berinteraksi dengan sesama alumni sehingga kebersamaan alumni, sivitas akademika ITB, dan umum itu bisa terjalin dan membangkitkan cinta almamater,” kata Ketua Yayasan Solidarity Forever, Ir. Susilo Siswoutomo dikutip dari siaran pers yang diterima Golali, Minggu 28 September 2025. Mengutip siaran pers yang dirilis ITB pada tahun 2025, ITB Ultra Marathon ini adalah prakarsa Yayasan Solidarity Forever yang dibentuk alumni Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, sejak awal tahun 2016. Ide diadakannya acara ini sendiri digagas oleh salah satu alumni FTMD, Gatot Sudariyono. Tujuan dari IT...

Ekspor Shopee FLEXI Tambah Jangkauan Negara di Asia Tenggara

JAKARTA,(Golali) - Shopee menambah negara tujuan pada program Ekspor Shopee FLEXI, melalui peluncuran program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’. Sebelumnya sejak diluncurkan pada pertengahan tahun 2025, Ekspor Shopee FLEXI baru menjaungkau wilayah Malaysia, lewat program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ yang diluncurkan pada 27 Oktober 2026, Shopee menambah 4 negara di Asia Tenggara yaitu Singapura, Filipina, Tailan, dan Brunei Darussalam.  Pada program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ ini, Shopee berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan mitra logistik Anteraja serta JNE. Selain itu, Shopee juga menghadirkan pembaruan fitur Program Ekspor Shopee FLEXI, menyelenggarakan pelatihan spesial Program Ekspor Shopee FLEXI, serta memfasilitasi program Seller Immersion ke Malaysia untuk memperkuat kapabilitas ekspor pengusaha lokal.  Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang menjelaskan perluasan jangkauan dan penguatan kapasitas penjual menja...

Sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1)

Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) yang ditulis Ojel Sansan Yusandi, mengisahkan tentang siapa saja yang menghuni Bandung, sebelum bernama Bandung seperti yang dikenal saat ini. Melansir dari akun instagram @lawangbuku inilah sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) : Siapakah penghuni Bandung sebelum nama Bandung ada di atas panggung sejarah? Apakah Bandung sama dengan Tatar Ukur? Benarkah Kabupaten Bandung lahir dari “rahim sejarah yang berdarah-darah” akibat perseteruan politik tingkat tinggi antara Dipati Ukur dkk versus Sultan Agung Mataram di abad XVII? Melalui buku ini kita juga akan saksikan bahwa sepanjang abad XIX, Bandung masih merupakan “kampung kecil” tak penting dengan jalanan berdebu, kerap dilalui maung, penuh kubangan badak. Ya, Bandung sebelum abad ke-20 sangat pangling, jauh berbeda dengan Bandung yang kini kita kenal.(Yatni Setianingsih/Golali.id) Data Buku : Judul Buku      ...