Langsung ke konten utama

Lokasi, Jam Buka, dan Tiket Museum ITB

BANDUNG, (Golali) - Lokasi atau alamat Museum ITB dikutip dari website museum.itb.ac.id, terletak di Lantai 3 Gedung Sabuga ITB, Jalan Tamansari No 73, Kota Ban dung, Provinsi Jawa Barat.


Museum ITB terbuka untuk dikunjungi masyarakat umum, jam operasional pukul  10.00 - 15.00 WIB.

Harga tiket masuk Museum ITB :


Rp50 ribu untuk umum
Rp30 ribu pelajar dan mahasiswa Museum ITB juga melayani kunjungan rombongan dan kelompok

Museum ITB adalah museum edukasi yang mengajak pengunjung menjelajahi perjalanan panjang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan inovasi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dirintis sejak tahun 2025, Museum ITB lahir melalui kolaborasi lintas fakultas, unit, dan keilmuan. Sains, teknologi, seni, desain, hingga humaniora dipertemukan dalam satu ruang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan beragam.

Pengunjung dapat melihat bagaimana sebuah gagasan lahir, diuji, dikembangkan, hingga diwujudkan melalui berbagai instrumen artefak penelitian, dokumentasi eksperimen, hasil temuan, inovasi, serta arsip visual perjalanan kehidupan di kampus.

Museum ITB terbagi ke dalam empat zona : 


Zona pertama menghadirkan akar sejarah ITB, mulai dari masa awal pengembangan Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) pada 1920, tumbuhnya semangat kebangsaan di kalangan mahasiswa, hingga kontribusinya dalam membangun fondasi ilmu pengetahuan di Indonesia.

Zona kedua mengungkap perjalanan riset, inovasi, dan berbagai penemuan yang lahir dari lingkungan ITB. Pengunjung dapat melihat bahwa di balik sebuah inovasi terdapat proses panjang, eksperimen, tantangan, serta ketekunan para ilmuwan dan peneliti.

Zona ketiga membawa pengunjung lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. Interaksi mahasiswa, dosen, dan peneliti menjadi bagian dari cerita tentang budaya belajar, penelitian, dan kolaborasi yang terus berkembang.

Sementara zona keempat memperlihatkan jejak para pemikir dan penggerak ITB yang memberikan kontribusi melalui ilmu pengetahuan, seni, teknologi, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Museum ITB juga menghadirkan sejumlah fasilitas pendukung untuk memberikan pengalaman yang lebih beragam kepada pengunjung. Salah satunya dome theater yang menampilkan video mengenai perjalanan ITB serta perkembangan teknologi.

Di area museum juga terdapat pesawat yang sebelumnya digunakan dalam kegiatan praktik mahasiswa. Kehadiran berbagai artefak tersebut menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk melihat secara lebih dekat bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi diterapkan dalam kehidupan nyata.

Museum ITB turut menyediakan fasilitas yang inklusif serta terus mengembangkan fasilitas dan layanan agar dapat memberikan pengalaman edukasi yang nyaman bagi berbagai kalangan.


“Antusiasme masyarakat terhadap Museum ITB cukup tinggi. Kalau di akhir pekan, pengunjung mencapai sekitar 1.200 sampai 1.300 orang, sedangkan pada hari kerja rata-rata sekitar 300 sampai 400 pengunjung,” kata Koordinator Museum ITB, Usep Mulyana. (Humas Pemkot Bandung/Yatni Setianingsih/Golali.id) 

Banyak dibaca

Nama Jalan Braga dari Masa ke Masa

BANDUNG,(Golali) - Jalan Braga adalah salah satu jalan yang terkenal di Kota Bandung, Jalan Braga pun menjadi ikon dari Kota Bandung. Sebelum bernama Jalan Braga atau Bragaweg, jalan ini telah berganti nama beberapa kali. Melansir buku Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950 yang ditulis Sudarsono Katam, berikut nama-nama yang pernah disematkan pada Jalan Braga : 1) Jalan Wanayasa karena menjadi jalan penghubung Sumedenglarang dan Wanayasa pada zaman Kerajaan Pajajaran. 2) Karrenweg dan Pedatiweg Nama ini diberikan karena menjadi jalan yang digunakan penduduk dan untuk mengangkut hasil bumi terutama kopi dari Gudang Kopi (kawasan Balai Kota sekarang) ke Grote Postweg (kawasan Jalan Asia Afrika sekarang) sebagai jalan angkutan utama antar kota. Nama Jalan Pedatiweg berkaitan dengan penggunaan pedati sebagai transportasi umum yang digunakan untuk melintasi jalan tersebut. 3) Jalan Braga atau Bragaweg Sementara perubahan nama menjadi Bragaweg Jalan Braga, sampai saat ini belum jelas as...

Resensi Buku Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa

Buku Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa membeberkan berbagai sajian kuliner Arab yang terdapat diberbagai daerah di Indonesia, yang memang disajikan para pemilik tempat makan keturunan Arab. “Masakan Arab dipengaruhi oleh masakan dari negara-negara di Saudi Arabia yang meliputi kawasan Tunisia, Yaman, Somalia, Mesir, Turki, Afghanistan, Iran, India, termasuk Afrika Utara” (halaman 14) “Bahan, bumbu aneka rempah biasa digunakan dalam membuat masakan khas Arab dan Timur Tengah. Yang terutama adalah bumbu jinten, pala, cengkih, kayu manis, kapulaga, daun kari (curry leaf), adas manis, yoghurt, zaitun, ketumbar, minyak samin, lada hitam, garam masala, keju feta, safron, klabet. Hidangan Arab dan Timur Tengah sangatlah lengkap. Mulai dari aneka appetizer (makanan pembuka) seperti salad, menu utama (main course) hingga dessert (makanan penutup/cuci mulut) yang bercita rasa manis seperti Mahalabiya dan Umm Ali)” (Halaman 15 – 17) Seperti diketahui, para pendatang Arab memasuki Nusantara telah l...

Jalan di Kota Bandung dari Nama Pahlawan Revolusi

BANDUNG,(Golali) - Jalan di Kota Bandung memiliki beragam nama, mulai dari nama gunung, sungai, sampai dengan Pahlawan Revolusi. Berikut nama Pahlawan Revolusi yang menjadi nama jalan di Kota Bandung : 1) Jalan Jendral Ahmad Yani Jalan Jendral Ahmad Yani membentang dari parapatan lima sampai X Terminal Cicaheum 2) Jalan Brigjen Katamso Jalan Brigjen Katamso membentang dari sekitaran lampu merah Jalan Supratman sampai dengan Jalan Pahlawan Itulah nama 2 Pahlawan Revolusi dari 10 Pahlawan Revolusi, yang menjadi nama jalan di Kota Bandung. (Yatni Setianingsih/Golali.id)