Musik bukanlah seni baru bagi Indonesia, telah lama musik mewarnai perjalanan kehidupan bangsa Indonesia, inilah yang dikupas Denny Sakrie melalui buku berjudul 100 Tahun Musik Indonesia.
Melalui buku 100 Tahun Musik Indonesia, Denny Sakrie menjabarkan berbagai hal terkait perkembangan musik Indonesia dari mulai para musisi hingga perkembangan industri musik di tanah air.
"Di zaman kolonialisme pemerintahan Hindia Belanda sendiri, cikal bakal industri hiburan musik telah memperlihatkan keberadaannya. Saat itu, fonografi (alat pemutar musik sebelum hadirnya turntable) Colombia buatan Amerika Serikat telah diimpor ke Hindia Belanda pada awal tahun 1900-an.
Antara kurun waktu 1903-1917, berbagai label rekaman mulai masuk ke Indonesia seperti Gramophone Company, Odeon, Beka, Columbia Graphophone Company, Parlophone, Anker, Lyrophon, serta Bintang Sapoe," (Halaman 2-3)
"Memasuki era 2000-an, paradigma musik secara global mulai mengalami pergeseran, termasuk dalam industri musik di Indonesia dengan menyeruaknya distribusi musik secara digital. Pada 2004, misalnya, industri musik Indonesia mengalami masa paceklik akibat penjualan rekaman musik secara fisik menurun drastis karena maraknya pembajakan yang tak pernah tuntas, mengalami sedikit secercah harapan dengan munculnya teknologi Ring Back Tone (RBT) atau Nada Pesan Lagu. Ring Back Tone ini bermuasal ketika Korea memperkenalkannya sekitar tahun 2002," (Halaman 163).
Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia ini pun, pembaca disuguhi perjalanan para penyanyi solo maupun grup band dalam mewarnai kancah musik dalam negeri. Termasuk perjalanan grup band Indie dari berbagai daerah yang mendunia. (Yatni Setianingsih/Golali.id)
Data Buku
Judul Buku : 100 Tahun Musik Indonesia
Penulis : Denny Sakrie
Penerbit : GagasMedia, Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2015
