Langsung ke konten utama

Lirik Lagu Budak Saha? Dinyanyikan Wina

BANDUNG,(Golali) - Lagu berjudul Budak Saha? Adalah salah satu lagu berbahasa Sunda, yang dinyanyikan Wina. 

Lagu Budak Saha? Mengisahkan tentang perasaan seorang anak yang tidak mengetahui siapa ayah dan ibunya, selama ini anak tersebut dibesarkan di panti asuhan.

Inilah lirik lagu Budak Saha – Wina

Dipikir siang jeung wengi

Hirup téh naha nyorangan?

Dirasa-rasa da puguh aya nu boga


Ema bapa, anjeun di mana?

Teu sangka ku nasib diri

Hirup téh pahat tulalis

Lami gedé cicing di yayasan


Ema bapa, anjeun di mana?

Duh, Gusti

Ari abdi budak saha?

Teu puguh laratannana

Batin ceurik balilihan


Ari abdi budak saha?

Ieu haté terus tumanya

Na di mana anu ngandung?

Na di mana nu ngayuga?


Ari abdi budak saha?

Ieu haté terus tumanya

Na di mana ari indung?

Na di mana ari bapa?


Teu sangka ku nasib diri

Hirup téh pahat tulalis

Lami gedé cicing di yayasan


Ema bapa, anjeun di mana?

Duh, Gusti

Ari abdi budak saha?

Teu puguh laratannana

Batin ceurik balilihan

Ari abdi budak saha?


Ieu haté terus tumanya

Na di mana anu ngandung?

Na di mana nu ngayuga?

Ari abdi budak saha?


Ieu haté terus tumanya

Na di mana ari indung?

Na di mana ari bapa?


Dipikir siang jeung wengi

Hirup téh naha nyorangan?

Dirasa-rasa da puguh aya nu boga

Ema bapa, anjeun di mana?


(Yatni Setianingsih/Golali.id)

BANYAK DIBACA

Sejak Kapan ITB Ultra Marathon Digelar?

BANDUNG,(Golali) - ITB Ultra Marathon telah digelar setiap tahun sejak 2017, rute pada ITB Ultra Marathon dimulai dari Jakarta dan finish di Kota Bandung. Jarak rute ITB Ultra Marathon yaitu 170 – 180 kilometer. Dimulai dari Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Cipatat-Padalarang-Cimahi-Bandung. “Melalui ITB Ultra Marathon yang digelar sejak 2017, jumlah peserta meningkat dari tahun ke tahun. Mereka bisa berinteraksi dengan sesama alumni sehingga kebersamaan alumni, sivitas akademika ITB, dan umum itu bisa terjalin dan membangkitkan cinta almamater,” kata Ketua Yayasan Solidarity Forever, Ir. Susilo Siswoutomo dikutip dari siaran pers yang diterima Golali, Minggu 28 September 2025. Mengutip siaran pers yang dirilis ITB pada tahun 2025, ITB Ultra Marathon ini adalah prakarsa Yayasan Solidarity Forever yang dibentuk alumni Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, sejak awal tahun 2016. Ide diadakannya acara ini sendiri digagas oleh salah satu alumni FTMD, Gatot Sudariyono. Tujuan dari IT...

Ekspor Shopee FLEXI Tambah Jangkauan Negara di Asia Tenggara

JAKARTA,(Golali) - Shopee menambah negara tujuan pada program Ekspor Shopee FLEXI, melalui peluncuran program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’. Sebelumnya sejak diluncurkan pada pertengahan tahun 2025, Ekspor Shopee FLEXI baru menjaungkau wilayah Malaysia, lewat program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ yang diluncurkan pada 27 Oktober 2026, Shopee menambah 4 negara di Asia Tenggara yaitu Singapura, Filipina, Tailan, dan Brunei Darussalam.  Pada program ‘Jalan Global Kreasi Lokal’ ini, Shopee berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan mitra logistik Anteraja serta JNE. Selain itu, Shopee juga menghadirkan pembaruan fitur Program Ekspor Shopee FLEXI, menyelenggarakan pelatihan spesial Program Ekspor Shopee FLEXI, serta memfasilitasi program Seller Immersion ke Malaysia untuk memperkuat kapabilitas ekspor pengusaha lokal.  Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang menjelaskan perluasan jangkauan dan penguatan kapasitas penjual menja...

Sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1)

Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) yang ditulis Ojel Sansan Yusandi, mengisahkan tentang siapa saja yang menghuni Bandung, sebelum bernama Bandung seperti yang dikenal saat ini. Melansir dari akun instagram @lawangbuku inilah sinopsis Buku Bandoeng Waktoe Itoe : Dari Citarum ke Sisi Cikapundung (Jilid 1) : Siapakah penghuni Bandung sebelum nama Bandung ada di atas panggung sejarah? Apakah Bandung sama dengan Tatar Ukur? Benarkah Kabupaten Bandung lahir dari “rahim sejarah yang berdarah-darah” akibat perseteruan politik tingkat tinggi antara Dipati Ukur dkk versus Sultan Agung Mataram di abad XVII? Melalui buku ini kita juga akan saksikan bahwa sepanjang abad XIX, Bandung masih merupakan “kampung kecil” tak penting dengan jalanan berdebu, kerap dilalui maung, penuh kubangan badak. Ya, Bandung sebelum abad ke-20 sangat pangling, jauh berbeda dengan Bandung yang kini kita kenal.(Yatni Setianingsih/Golali.id) Data Buku : Judul Buku      ...