Langsung ke konten utama

Apa Itu Tahu Sumedang?



SUMEDANG, (Golali) - Tahu Sumedang adalah makanan yang berasal dari Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Nama tahu Sumedang, lebih umum disematkan pada tahu khas Sumedang yang telah digoreng.


Ciri khas tahu Sumedang yakni berwarna cokelat, berbentuk kotak agak bulat, bertekstur agak kasar pada bagian luarnya yang berwarna cokelat, bagian dalam tahu Sumedang berwarna putih dan bertekstur lembut.   


Resep tahu Sumedang

Tahu Sumedang terbuat dari kacang kedelai yang digiling halus dicampur dengan air. Kemudian direbus, disaring, diendapkan sehingga padat dan dipotong-potong berbentuk kotak.

Saat masih mentah bagian luar tahu berwarna putih dan bagian dalamnya padat, namun setelah digoreng dalam minyak yang banyak dengan api yang besar. Menyebabkan warna tahu berubah menjadi cokelat dan tanpa isi alias kosong di bagian dalamnya.

Tahu Sumedang biasanya dimakan sebagai makanan selingan, maupun sebagai pendamping makan lontong atau lauk saat makan nasi.

Tahu Sumedang sangat enak dimakan dalam kondisi hangat dengan cabai rawit maupun kecap, namun dinikmati saat dingin juga tetap terasa lezat.

Di mana bisa beli tahu Sumedang?

Tahu Sumedang kini tak hanya bisa ditemukan di Kabupaten Sumedang, tetapi bisa juga dibeli diberbagai daerah sekitar Kabupaten Sumedang atau kawasan Bandung Raya. Bahkan tahu Sumedang bisa didapatkan di Jakarta, Yogyakarta, hingga Kalimantan. 

Sejarah tahu Sumedang 

Dikutip dari Buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang yang ditulis M.Lutfhi Khair A. dan Rusdyan Fathy berikut sekilas sejarah tahu Sumedang :

“Industri tahu Sumedang lahir karena adanya seorang imigran Tionghoa bernama Ong Ki No yang diperkirakaan datang ke Sumedang pada awal abad ke-20, pada 1900-an. Ia datang bersama istrinya, yang menjadi penyebab ia membuat tahu pertama kali di Sumedang.

Sang istri adalah seorang yang sangat menyukai makanan Tionghoa yang bernama tao-fu (kata tao-fou dibaca tao-hu, yang kemudian orang pribumi menyebutnya sebagai tahu). Karena perasaan sayangnya kepada sang istri, Ong Ki No rela pergi berkeliling mencari kacang kedelai- bahan baku utama tahu- di wilayah yang masih asing untuknya. Saat itu, di wilayah Conggeang terdapat kebun kedelai lurik. Setelah mendapatkan kedelai, ia pun mengolahnya menjadi tahu.

Tahu pertama yang berhasil dibuat Ong Ki No belum seperti tahu Sumedang yang sekarang kita kenal. Saat itu tahu yang dibuat masih tahu putih khas Tiongkong yang direbus. Ong Ki No membuat tahu tersebut hanya untuk konsumsi pribadi dan terkadang dibagikan ke tetangganya, ” (Halaman 25 – 26)

“Respon yang positif dari warga sekitar, membuat Ong Ki No berpikir untuk mendagangkan tahu. Sayangnya, usaha yang dibuat oleh Ong Ki No itu tidak berjalan mulus. Karena tidak membawa perubahan yang signifikan dalam perekonomian mereka, Ong Ki No dan istrinya berencana kembali pulang ke Tiongkok pada 1917. Pada tahun yang sama, putra mereka bernama Ong Bung Keng (Bung Keng) datang ke Sumedang.

Bung Keng diminta untuk meneruskan usaha orang tuanya. Kegagalan orang tuanya berjualan tahu membuat Bung Keng berpikir tentang apa yang harus dia lakukan agar tahu lebih menarik minat banyak orang. Dari pengamatannya, beberapa jenis makanan siap makan seperti tahu putih, ternyata bisa digoreng.

Bung Keng pun mencoba menggoreng tahu putih. Hasilnya adalah tahu goreng yang memiliki tekstur lebih renyah dan rasa lebih gurih daripada tahu putih rebus. Ketika tahu digoreng, muncul aroma tahu goreng yang khas.

Ada suatu kisah pada tahun 1928, ketika Bupati Sumedang saat itu – Pangeran Soeriaatmadja- pernah melewati tempat berjualan Bung Keng saat hendak menuju wilayah Situraja. Di dalam kereta kuda yang dinaikinya, Pangeran Soeriaatmadja mencium aroma yang belum pernah dikenalnya. Pangeran Soeriaatmadja pun turun dari keretanya dan bertanya kepada Bung Keng, apa yang sedang digoreng ? Bung Keng menjawab itu adalah tahu, makanan khas dari Tionghoa. Pangeran Soeriaatmadja mencicipinya dan mengatakan makanan itu enak dan bila makanan itu terus dijual pasti akan sangat laku,” (Halam 27 – 28)

Saat ini Tahu Sumedang Bung Keng diteruskan generasi keempat dari Tahu Bung Keng, Suryadi yang menjalankan roda bisnis dari tahu Bung Keng yang kini sudah lebih dari 100 tahun alias satu abad.

Lokasi pusat Tahu Bungkeng di Jalan Sebelas April No.53, Kelurahan Kotakaler Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. (Yatni Setianingsih/Golali.id)


Sebelumnya telah tayang https://golali.id/siapa-pelopor-tahu-sumedang/ dan https://golali.id/tahu-sumedang-adalah/

 

Banyak dibaca

Rumah Sakit di Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung

BANDUNG, (Golali) - Jalan Soekarno Hatta adalah salah satu jalan yang ada di Kota Bandung. Panjang Jalan Soekarno Hatta di Kota Bandung, mencapai 18,3 Km. Jalan Soekarno Hatta di Kota Bandung membentang dari Bundaran Cibeureum sampai dengan Bundaran Cibiru. Jalan Soekarno Hatta termasuk jalan Nasional, yang artinya dibiayai pemerintah pusat. Hal ini tertuang dalam S.K Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.631/KPTS/M/2009 dan Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Barat No.620/Kep1530 Admrek/2011. Di Jalan Soekarno Hatta sampai tahun 2026 berdasarkan penelusuran Golali, terdapat 3 rumah sakit : 1) Edelweiss Hospital Alamat atau lokasi Edelweiss Hospital di Jalan Soekarno Hatta No 550 Kota Bandung 2) RSJP Paramarta Lokasi atau alamat Rumah Sakit Khusus Jantung & Pembuluh Darah Paramarta Bandung berada di Jalan Soekarno Hatta No 581 Kota Bandung 3) Rumah Sakit Al Islam Bandung Alamat atau lokasi RSAI (Rumah Sakit Al Islam) Bandung berada di Jalan Soekarno Hatta No 644 Itulah a...

9 Nama Jalan yang Sama di Jakarta dan Bandung

BANDUNG,(Golali) - Di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan beberapa kota di Provinsi DKI Jakarta terdapat nama-nama jalan yang sama. Golali merangkum nama jalan yang ada di Kota Bandung dan Jakarta : 1) Jalan Veteran di Kota Jakarta Pusat sementara di Kota Bandung Jalan Veteran di sekitaran Pasar Kosambi 2) Jalan Ir H Juanda di Kota Jakarta Pusat sedangkan di Kota Bandung Jalan Ir H Juanda yang dikenal dengan kawasan Dago dekat Gedung Sate 3) Jalan Jenderal Gatot Subroto di Kota Jakarta Selatan, sementara di Kota Bandung di dekat sentra rajut Binong Jati hingga Pasar Kosambi 4) Jalan Jendral Sudirman di Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, sedangkan di Kota Bandung dekat dengan Pasar Baru 5) Jalan Otto Iskandardinata di Kota Jakarta Timur, di Kota Bandung yaitu di kawasan Pasar Baru, Gedung Pakuan, dan Tegallega 6) Jalan Jendral Ahmad Yani di Kota Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Di Kota Bandung dimulai dari Terminal Cicaheum sampai sekitaran Pasar Kosambi 7)...

3 Polsek di Jalan AH Nasution Bandung

BANDUNG, (Golali) - Jalan Abdul Haris (AH) Nasution adalah salah satu jalan yang ada di Kota Bandung. Di Jalan AH Nasution terdapat 3 Kantor Markas Polsek yaitu : 1) Polsek Panyileukan Alamat atau lokasi Polsek Panyileukan terletak di Jalan AH Nasution No 6 Kota Bandung. Letak Polsek Panyileukan sekitaran Bundaran Cibiru dan tugu batas Kota Bandung dan Kabupaten Bandung 2) Polsek Ujung Berung Alamat atau lokasi Polsek Ujung Berung berada di Jalan AH Nasution No 21 Kota Bandung. Lokasi Polsek Ujung Berung bersebelahan dengan Superindo Ujung Berung, jika dari Terminal Cicaheum ke arah bundaran Cibiru, Polsek Ujung Berung berada setelah Kantor Kecamatan Ujung Berung, Alun-alun Ujung Berung, dan Pasar Ujung Berung. 3) Polsek Antapani Alamat atau lokasi Polsek Antapani berada di Jalan AH Nasution No 10, Kota Bandung. Lokasi Polsek Antapani terletak dekat Kantor Kecamatan Antapani, TPU Cikadut, dan Terminal Cicaheum. Letak Polsek Antapani dilalui berbagai transportasi umum mulai dari Angkot...