Gara-gara Galau Nongkrong, Artch Hasilkan Cuan Melimpah

Host live mejelaskan detail tas brand Artch
saat siaran langsung Shopee Live (foto : Yatni Setianingsih) 

"Tas ini terdiri dari banyak kantong yang bisa untuk menyimpan berbagai perintilan," itulah potongan kalimat yang diucapkan host live di studio live Artch di bilangan Gempolsari, Kota Bandung, Kamis 9 Juli 2026 yang disiarkan secara langsung melalui akun Artch Official Shop di Shopee.

Host live seorang wanita yang menunjukkan detail dari tas brand lokal Artch di depan kamera DSLR (Digital Single-Lens Reflex) yang disetting otomatis merekam siaran langsung tersebut, di samping kamera ditempatkan dua handphone yang digunakan untuk melihat siaran langsung yang tayang di akun Artch Official Shop pada fitur Shopee Live. 

Di bagian belakang host live terdapat beberapa pajangan foto produk Artch dan lighting untuk menunjang syuting siaran langsung di Shopee Live, sementara di bagian kanan terdapat beragam produk Artch yang nantinya akan ditawarkan pada Shopee Live. Selain host live, aktivitas ini melibatkan dua orang lainnya untuk memonitor jalannya siaran langsung. 

Sementara sekitaran 700 meter dari kawasan tersebut, para penjahit pria sibuk menjahit berbagai bagian tas ransel, salah satu produk utama dari Artch yang bakal dipasarkan di marketplace seperti Shopee. 

Owner Artch, Fahri Muhamad Ridwan (kanan)
dan Galih Muhamad Iqbal (kiri)
menunjukan tas produksinya (foto : Yatni Setianingsih) 


"Sejak 2016, kami mulai bergabung dengan Shopee. Lewat marketplace seperti Shopee jadi solusi. Dulu (sekitar tahun 2020) sempat coba maksimalkan di website sendiri, enggak banyak berpengaruh. Untuk brand yang sudah punya nama itu beda (pakai website sendiri). Artch ini besar lewat marketplace. Bikin bisnis gampang yang bikin masalah pemasaran, ada shopee untuk pemasarannya itu," kata Founder sekaligus Owner Artch, Fahri Muhamad Ridwan kepada kepada Golali, di tempat produksi Artch yang berada di Komplek Bumi Asri Kelurahan Gempolsari, Kecamatan Bandung Kulon Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat (Jabar). 

Artch lahir dari keresahan, Fahri Muhamad Ridwan yang merasa harus memiliki bisnis sendiri setelah berkelana bekerja di Surabaya dan Tangerang. 

Selain itu, kondisi teman-teman sebaya maupun lebih muda yang dulu tergabung di Karang Taruna di tempat tinggalnya setelah selesai kuliah, lebih banyak menghabiskan waktu nongkrong. 

"Sudah jenuh, sudah beres kuliah, timbul keresahan, masa nongkrong terus, coba jual tas serut," ungkap Fahri 

Ide awal memproduksi tas serut tersebut, sambung Fahri terilhami dari adiknya bernama Galih Muhamad Iqbal yang juga menjadi owner Artch, yang sering bermain futsal membutuhkan tas untuk membawa perlengkapam futsal, seperti sepatu futsal. Menurutnya model tas serut sangat sesuai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 

Di mulai pada tahun 2015, tas serut tersebut mulai dijual Galih kepada temannya. Ternyata mereka sangat antusias untuk membelinya. 

"Modal udunan (patungan dalam bahasa Sunda), jadi semua merasa memiliki, modal awal Rp500 ribu dari uang pribadi, terus butuh tambahan ada yang nambah (dari teman-teman) adanya berapa?" Cerita Fahri. 

Teman-temannya menjadi reseller untuk tas serut produksi Artch. Sehingga penjualan produk tas serut tersebut terus bertumbuh, namun mereka tak puas diri hanya sampai di situ, ada keinginan untuk memperluas pasar, akhirnya pada tahun 2016, Artch bergabung menjadi seller di Shopee dengan nama akun Artch Official Shop.

"Saat masuk Shopee pun menjual tas serut, banyak permintaan juga," ungkap Fahri.

Kini Artch tidak hanya memproduksi tas serut, tetapi juga ransel, sling bag, dan jenis tas lainnya. Selain itu, Artch pun memproduksi dan menjual topi, rompi, celana, dan lain-lain.

Karyawan Artch menjahit aneka tas
di rumah produksi Artch di Kota Bandung
(foto : Yatni Setianingsih)

Soal produksi di awal membangun Artch tak mengalami kesulitan yang berarti, pasalnya lingkungan tempat produksi Artch ahlinya dalam memproduksi tas, termasuk teman dan keluarga besar Fahri dan Galih yang telah lama menggeluti dunia jahit salah satunya memproduksi tas. Kini, Artch memiliki 17 karyawan dan mampu memproduksi hampir 10 ribu pieces per bulan.

Pemasaran online dan offline 

Artch memang tidak secara total dipasarkan secara online melalui marketpalce dan website, tetapi juga membuka toko offline di Kota Bandung dan beberapa wilayah lainnya di Pulau Jawa. Namun, penjualan secara online khususnya di Shopee memberikan andil yang sangat besar pada pendapatan Artch. 

"Untuk penjualan shopee (kontribusi) 75 persen," ucap Head of Marketing Artch, Mochamad Fauzi Ramadhan.

Untuk wilayah pemasaran dari Artch, di Indonesia terbanyak ke Jakarta. Selain itu, produk Artch pun telah diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara yaitu Singapura, Filipina, Malaysia, dan Tailan, juga Asia Timur, serta Amerika Latin melalui program Ekspor Shopee.

"40 persen ekspor (kontribusi ekspor dari total penjualan secara umum)," imbuh Fauzi. 

Shopee Live jembatan antara penjual dan pembeli secara real-time 

Senior Director of Marketing Growth Shopee Indonesia, Monica Vionna beberapa waktu silam mengatakan sejak Shopee beroperasi di Indonesia pada tahun 2015, Shopee mendedikasikan segenap inovasi berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara melalui pilar UMKM dan brand lokal.

Antara lain melalui Shopee Live sebagai salah satu fitur dari aplikasi Shopee, yang bisa digunakan pembeli dan penjual di Shopee.

Kegunaan Shopee Live yaitu memungkinkan komunikasi dua arah antara pembeli dan penjual secara real-time, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan pemasaran menarik yang dapat membantu keputusan pembelian.

Pembeli pun juga dapat menikmati konten menarik dari penjual, melihat produk yang yang ingin dibeli dengan lebih detail dan informatif.

“Fitur Shopee Live tidak hanya untuk menonton rangkaian hiburan tetapi kini juga menjadi cara belanja baru yang semakin diminati. Shopee juga melihat bahwa fitur live shopping ini mendapatkan respon yang positif dari para pelaku usaha yang sangat bersemangat dalam memanfaatkan Shopee Live sebagai wadah pemasaran dan penjualan yang bisa meningkatkan performa bisnis, serta menciptakan kedekatan personal kepada para konsumennya,” kata Monica Vionna.

Selain Shopee Live adapula Shopee Video yang banyak dimanfaatkan oleh pengguna yang memiliki preferensi terhadap konten visual yang kreatif dan menarik tanpa harus berinteraksi secara langsung. Saat ini, konten visual memang masih menjadi salah satu cara yang kuat untuk menarik perhatian calon pembeli, baik berupa foto, infografik hingga video. Beberapa diantaranya yang dapat ditemukan mulai dari review produk, unboxing,  hingga kreasi video mix and match yang dapat menjadi inspirasi pengguna.

“Kami telah melihat bagaimana perkembangan teknologi terus mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Begitupun sebaliknya, dimana hal baru yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan perilaku belanja online. Sebagai platform e-commerce, Shopee memiliki peran dan fungsi berbeda untuk setiap ekosistem, baik pembeli hingga brand lokal dan UMKM,”

"Berangkat dari hal tersebut, untuk dapat berjalan bersama masyarakat dalam membentuk masa depan ekonomi digital, Shopee terus berupaya untuk bertumbuh bersama kemajuan dan semakin meningkatkan peran dan fungsinya melalui inovasi dan program. Melihat bagaimana pengaruh signifikan elemen interaksi dalam beberapa waktu terakhir, dimana elemen ini berhasil menjadi daya tarik utama bagi pembeli dan penjual, khususnya pelaku usaha lokal, mendorong kami untuk terus menghadirkan inisiatif baru pada fitur interaktif kami," kata Monica Vionna

Digitalisasi Beri Kesempatan UMKM Perluas Pasar 


Mengutip data Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (Diskuk) yang diunggah di website diskuk.jabarprov.go.id, tercatat hingga kini ada 5,4 juta UMKM di Provinsi Jawa Barat, yang didominasi usaha mikro. 

Menurut Kepala Bidang Pengembangan Usaha Kecil Diskuk Jabar, Danny Fulton perkembangan dunia digital telah mengubah pola persaingan usaha. Pelaku UMKM kini tidak lagi hanya bersaing di tingkat lokal atau regional, tetapi telah terhubung dengan pasar yang lebih luas.

“Ketika terjun di dunia digital, itu tidak hanya level lokal regional lagi, kita terhubung dengan dunia yang lebih luas,” ucap Danny Fulton dikutip dari diskuk.jabarprov.go.id.

Asisten Deputi Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM, Ari Anindya Hartika menjelaskan transformasi digital kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi pengusaha UMKM untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas jangkauan pasar.

"Saat ini pola belanja masyarakat semakin dipengaruhi oleh konten digital. Karena itu, pengusaha UMKM perlu memahami bagaimana memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk membangun visibilitas produk, menjangkau konsumen yang lebih luas, serta meningkatkan penjualan secara berkelanjutan," ungkap Ari dikutip dari umkm.go.id.(Yatni Setianingsih/Golali.id)