Menurut pengamatan Golali, sambal atau sambel adalah penyedap untuk berbagai makanan yang terbuat dari campuran cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, garam, dan gula juga berbagai tambahan bahan seperti terasi, oncom, petis, dan lain-lain yang diolah dengan cara dihaluskan atau diulek menggunakan cobek dan ulekan.
Sambal ada yang disajikan tanpa ditumis atau direbus disebut sambal mentah atau sambal dadakan, tetapi ada juga yang dimasak dengan cara ditumis dan direbus. Sambal mayoritas memiliki rasa pedas dan asam.
Sambal biasanya bersanding dengan lalapan, juga ditambahkan ke berbagai hidangan mulai dari mi bakso, mi ayam, bakso tahu, batagor, kupat tahu, bubur ayam, nasi kuning, nasi goreng, nasi uduk, dan lain-lain.
Setiap daerah di Indonesia, memiliki sambel khas yang bercitarasa lezat dan pedas.
Mengutip kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Sambal adalah makanan penyedap yang memiliki rasa pedas, dibuat dari cabai yang ditumbuk, dihaluskan, dan sebagainya, biasanya ditambah bahan lain seperti bawang dan terasi, biasa dimakan bersama nasi.
Sejarah Sambal di Indonesia
Ahli sejarah dari Unpad, Fadly Rahman, M.A., menerangkan, sudah sejak lama sambal berfungsi sebagai penggugah selera makan.
“Sebelum cabai masuk ke Nusantara, nenek moyang orang Jawa menggunakan cabya jawa (Piper retrofractum), lada (Piper nigrum), dan jahe (Zingiber officinale) sebagai bahan membuat sambal. Lain hal dengan di Sumatra Utara yang memiliki andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC), tanaman khas yang sejak dulu hingga kini digunakan sebagai pecitarasa pedas,” kata Fadly dikutip dari website Unpad.
Lebih lanjut, Fadly mengungkapkan, budidaya cabai dari benua Amerika yang terus berkembang diikuti pula dengan kian berkembangnya nafsu makan masyarakat Nusantara terhadap sambal.
Fadly bercerita, pada 1621, seorang petualang Prancis, Augustin de Beaulieu, dijamu makan di Istana Aceh. Ia dibuat begitu terkesima dengan sajian hidangan yang melimpah ruah.
“Satu sajian yang tidak ia sentuh adalah sambal. Bagi orang Eropa seperti Beaulieu, sensasi pedas sambal terkesan begitu mengkhawatirkan bagi pencernaannya. Kesan itu tetap bertahan pada abad-abad kemudian,” tuturnya. (Yatni Setianingsih/Golali.id)
