Di era media sosial (medsos) semua orang bisa menjadi content creator (konten kreator), hanya bermodal handphone pintar dan kuota internet, siapapun berkesempatan mempublikasikan dirinya maupun brandnya di media sosial, hanya cukup membuat akun dan mengunggahnya di medsos tersebut.
Namun, tak cukup hanya sampai di sana, banyaknya jumlah content yang diupload tidak selalu berkolerasai menjadi content creator yang sukses dalam menarik minat khalayak terhadap content maupun content creator tersebut.
Ada berbagai strategi yang harus dilakukan, sehingga individu maupun brand (dikenal dari banyaknya ratusan juta content creator yang ada saat ini/ jika semua pemilik akun media sosial berkeinginan menjadi content creator) dapat menarik minat khalayak.
Penulis Buku Komunikasi Pemasaran Terpadu dalam Pemasaran Konten, Daniel Hermawan menerangkan langkah utama untuk menarik minat khalayak sehingga content yang dipublikasi menjadi sarana komunikasi pemasaran yaitu dengan menghadirkan keotentikan diri atau brand, bukan mejiplak content yang sudah ada atau yang viral.
"Meniru 100 persen tidak boleh, yang boleh ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Ikut trend tidak salah tapi kita jadi bingung sendiri. Ngikutin trend itu tidak akan pernah beres, tetapi bagaimana menciptakan trend orang itu mengikuti kita, " kata dosen Unpar ini, dalam Bedah Buku #6 Kamisan Aksarasa yang digelar Sindikasi Aksara melalui live akun instagram @sindikasi.aksara dipandu Suci Atmarani, Kamis malam 17 Juli 2025.
Lebih lanjut, Daniel Hermawan menjelaskan komunikasi pemasaran terpadu adalah bahwa setiap brand punya DNA-nya (kepribadiannya), seringkali banyak yang belum menyadari kepribadian brandnya, padahal setiap brand itu unik, memiliki kepribadian masing-masing seperti juga individu.
"Contohnya content creator, menampilkan citranya secara humoris jika ada yang meniru humoris, vibesnya berbeda. Komunikasi pemasaran terpadu itu tentang konsistensi kepribadiannya (otentik), tidak bisa template atau ikut kesuksesan brand yang lain. Brand itu penting, bukan sekedar nama tapi identitas yang intergal antara pikiran, perasaan, dan lain-lain. Contohnya sebuah brand ingin mencitrakan premium tetapi hadirkan sesuatu yang berbeda dengan kepribadinnya," ungkap Daniel Hermawan.
Menurut Daniel Hermawan jika seorang creator tidak membuat content yang original alias meniru, lama-lama akan ditinggalkan khalayaknya. Berbeda dengan creator yang membuat content dengan ide dan kemasannya original walaupun contentnya sederhana tetapi otentik, maka khalayak akan selalu mengingatnya.
"Makanya enggak heran iklan di media mainstream jarang diminati, karena dibuat oleh brand sendiri. Berbeda di media sosial karena otentik dibuat content creator seperti affiliator," tutur Daniel Hermawan.
Paparan tentang hal ini lebih lengkapnya dijelaskan pada Buku Komunikasi Pemasaran Terpadu dalam Pemasaran Konten, yang ditulis Daniel Hermawan pada saat pandemi Covid-19 tahun 2021. (Yatni Setianingsih/Golali.id)