Tips Cegah dan Atasi Dampak Bullying


Bullying atau perundungan (dalam bahasa Indonesia) bagaikan bola salju, yang terus terjadi dan berdampak signifikan pada korbannya. Bullying dapat terjadi pada semua orang dan di mana saja, termasuk di kalangan pelajar yang terjadi di antara teman sebaya.

Walaupun begitu dengan kepedulian berbagai pihak dan kalangan, peristiwa bullying dapat dicegah dan jika terlanjur terjadi dapat dilakukan penaggulangan, guna mengurangi dampak psikologinya.

Hal ini pula yang dikupas dalam diskusi literasi dengan tema “Memutus Rantai Kecemasan: Dampak Perundungan Pada Kesehatan Mental Pelajar di Kota Bandung”, Kamis, 20 Februari 2025 Pukul 09.00-12.00 WIB di Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram No 2 Kota Bandung.

Acara yang digelar Sindikasi Jamparing berkolaborasi dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung dan Penerbit Yrama Widya ini, menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan mulai dari psikolog, penulis, hingga seniman :

1.Psikolog – Hilyah Irsalina, M.Psi., Psikolog
2.Penulis Buku Self-Improvement – Foggy FF
3.Aktivis Anti Perundungan – Wanggi Hoed

Diskusi ini dimoderatori, Tiwi Kasavela

Langkah untuk mencegah dan mengatasi dampak bullying

Psikolog Hilyah Irsalina menegaskan peristiwa bullying terjadi bukan atas kesalahan korban. Bullying biasanya dilakukan oleh pihak yang terdiri dari banyak orang atau mempunya kuasa, kepada orang yang sendirian.

“Pelaku bullying biasanya tidak sendiri, tetapi kelompok mem-bully yang sendiri atau sedikit. Jika sendiri pun biasanya punya kuasa status sosial atau ekonomi lebih dari yang di-bully,” kata Hilyah Irsalina.

Lebih lanjut, Hilyah Irsalina menjelaskan untuk menolong atau menyelamatkan teman yang di-bullying jangan dilakukan sendiri, jika pelaku malah balik mem-bully orang yang akan menolong korban.

“Kalau bisa jika kita membela itu tidak sendiri,” sambungnya.

Penulis Buku Self-Improvement dan korban bullying saat sekolah, Foggy FF mengaku jika dirinya merasa mengalami efek perundungan saat memasuki usia dewasa. Untuk mengatasi dampak bullying berupa kecemasan, Foggy berkonsultasi dengan profesional di bidang kejiwaan (psikologi atau psikiater), menulis jurnal (journaling), dan meditasi.

“Salah satunya dengan teknik journaling, seperti menulis diary (buku harian) tetapi lebih detail. Melalui teknik journaling ini, menyebabkan ada sesuatu yang berkurang kecemasan. Dulu saat kejadian terkadang tidak sadar, baru sadar kadang setelah dewasa, kenapa saya cemas, overthinking, dan lain-lain. Residu kotor dalam pikiran kita tertumpahkan dalam tulisan,” ucap Foggy.

Efek dari journaling ini, kini Foggy telah menghasilkan berbagai judul novel dan buku self-improvement berjudul Melihat Lebih Jernih.

“Isi memoar jurnal tentang pengalaman hidup yang saya tuangkan dalam buku Melihat Lebih Jernih,” tutur Foggy.

Foggy mengisahkan sejak SD sudah senang menulis, tapi hasil karyanya hanya disimpan sendiri tanpa publikasi.

“Ada rasa tidak percaya diri, cemas. Setelah bertahun-tahun, menjelang dewasa jadi tidak produktif. Akhirnya saya datang ke psikolog untuk mengatasi hal itu,” ungkap Foggy.

Saat pertama kali menerbitkan novel, rasa percaya diri ini masih hilang. Lalu, sambung Foggy banyak pihak yang tidak kenal membaca novelnya dan mengapresiasi. Hal ini membangkitkan rasa percaya dirinya dan merasa diri bermanfaat untuk orang lain.

Kini, Foggy mengaku terkadang masih merasakan kecemasan. Namun Foggy selalu mengingat cara mengatasinya seperti yang pernah dia lakukan sejak berkonsultasi dengan psikolog.

“Saat sekarang saya mengalami kecemasan, saya ingat-ingat apalagi untuk mengatasi kecemasan tersebut,” bebernya.

Sementara seniman dan aktivis anti perundungan, Wanggi Hoed mengatakan cara mengatasi dampak dan melawan bullying yaitu dengan berprestasi dalam bidang yang disukai dan kuasai.

Bullying harus dilawan dengan prestasi, dahulu saat SD saya pernah di-bully oleh teman, setelah lulus SD saya mendapatkan prestasi menang drumband, dan ketemu lagi dengan dia, dan dia menjadi segan,” terang Wanggi Hoed.

Koordinator Sindikasi Jamparing, Indra Wardhana menjelaskan tujuan dari acara ini untuk memberikan ruang bagi pelajar, pendidik, serta masyarakat luas untuk memahami isu perundungan dari berbagai perspektif.

“Ini adalah kegiatan perdana (dari Sindikasi Jamparing), kebetulan anggota berkaitan dengan hal ini dan circle (teman) saling mendukung. Mulai dari narasumber sampai tempat untuk diskusi," tutupnya.(Yatni Setianingsih/Golali.id)

Berita ini pertama kali tayang di Golali.id pada 20 Februari 2025