Sisingaan atau Singa Depok adalah seni pertunjukan dari Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat yang juga berkembang ke berbagai daerah yang ada di sekitarnya seperti Kabupaten Subang, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.
Sisingaan termasuk dalam seni pertujuan dalam rumpun seni tari yang dibawakan secara berkelompok atau lebih dari 2 orang penari
Singa Depok atau Sisingaan terdiri dari :
1. Jampana patung atau boneka singa atau sisingaan
2. Pengusung atau pemanggul jampana sisingaan
3. Orang yang naik di atas Sisingaan (anak-anak ataupun orang dewasa)
4. Instrumen musik tradisional Sunda untuk mengiringi atraksi sisingaan atau singa depok
5. Sinden (sebutan untuk penyanyi wanita di Sunda)
Singa Depok atau Sisingaan termasuk salah satu seni pertunjukan helaran (iring-iringan), yang dipertontonkan keliling kampung atau jalan maupun lapangan terbuka.
Singa Depok atau Sisingaan biasanya ditampilkan dalam berbagai acara seperti hajatan atau resepsi khitanan, maupun menyambut tamu dalam peresmian suatu acara. Sehingga anak yang dikhitan atau disunat naik Singa Depok keliling kampung. Sementara dalam penyambutan tamu dalam peresmian acara seperti pejabat atau pemilik usaha, naik Singa Depok dari tempat orang tersebut turun dari kendaraan menuju lokasi acara.
Sejarah sisingaan
Mengutip buku Seni Budaya untuk kelas XI Sekolah Menengah Atas yang ditulis Harry Sulastianto, dkk (Halaman 137), tari sisingaan sudah ada sejak tahun 1910. Hal ini berdasarkan data yang menyebutkan pada tahun 1910 diadakan arak-arakan (iring-iringan) dengan menunggang sisingaan yang mengusung lurah ketiga Cigadung (di Kabupaten Subang) bernama Sayung. Pada tahun 1920, seorang patih pemerintah daerah Kabupaten Subang mengaku saat dulu dikhitan pernah menunggang sisingaan.
Masih mengutip buku yang sama, nama sisingaan berasal dari jampana atau kursi yang digunakan untuk mengusung orang/anak berbentuk mirip singa atau dalam bahasa Sunda disebut sisingaan (singa imitasi).
Tari sisingaan diyakini mendapat pengaruh dari budaya Inggris dan Belanda yang pernah mengusai daerah Subang. Pengaruh Inggris dan Belanda, bisa dilihat dari bentuk jampana yang diganti dengan bentuk singa sebagai lambang Inggris dan Belanda. (Yatni Setianingsih/Golali.id)
