Resensi Novel Sitti Nurbaya

Novel Sitti Nurbaya atau Kasih tak Sampai adalah salah satu karya sastrawan, Marah Rusli. Novel Sitti Nurbaya atau Kasih tak Sampai, menceritakan cerita cinta antara Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, yang kandas karena Sitti Nurbaya yang merelakan dirinya dinikahi Datuk Meringgih, sebagai bentuk baktinya kepada ayahnya yang terancam dijebloskan ke penjara karena tidak mampu membayar utang rentenir kepada Datuk Meringgih.

Ayah Sitti Nurbaya tak rela Sitti Nurbaya menikah dengan Datuk Meringgih, tetapi Sitti Nurbaya tak rela juga ayahnya yang sudah tua ditahan. Keduanya tak memiliki cara untuk membayar utang kepada Datuk Meringgih, yang melipatgandakan uang yang dipinjam.

Jauh sebelum peristiwa ini terjadi, Samsulbahri telah memiliki firasat buruk terkait dirinya dan Sitti Nurbaya atas kekejaman Datuk Meringgih. (Halaman 60)

Padahal di antara Samsulbahri, Sitti Nurbaya, dan Datuk Meringgih belum ada keterkaitan. Selain urusan ayahnya Samsulbahri, Sutan Mahmud Syah yang terpaksa meminjam uang kepada Datuk Meringgih. Hal ini pun tidak diketahui oleh Samsulbahri.

Novel Sitti Nurbaya, berlatar setting lokasi, seni, dan budaya Minangkabau dan setting waktu di masa Hindia Belanda. Dalam beberapa bagian Novel Sitti Nurbaya diangkat beberapa pantun seperti

"Pulau Pandan jauh di tengah,
di balik pulau Angsa Dua,
Hancur badan di kandung tanah,
guna baik diingat jua."

Dalam novel Sitti Nurbaya, pembaca pun disuguhi kisah tentang bagaimana adat istiadat perkawinan di Minangkbau. (Yatni Setianingsih/Golali.id)


Data Buku 

Judul Buku : Sitti Nurbaya (Kasih tak Sampai)

Penulis : Marah Rusli

Penerbit : Balai Pustaka

Tahun Terbit : Pertama kali terbit pada tahun 1922