Resensi Buku Wisata Parijs van Java

Buku Wisata Parijs van Java yang ditulis Her Suganda mengupas tentang Kota Bandung dari berbagai sudut keunikan kota ini, mulai dari sejarah, seni, kuliner, sampai wisata belanja.

Melalui buku ini pembaca akan diajak menelusuri berbagai bangunan ikonik dari Kota Bandung seperti Gedung Sate.

"Bangunan dengan poros utara-selatan ini memiliki panduan gaya arsitektur timur dan barat yang anggun sehingga memperoleh banyak pujian. Seperti bangunan kolonial pada umumnya, jendela dan pintunya tinggi dan lebar dilengkapi dengan kaca patri. Di lantai satu terdapat aula yang menyerupai ballroom tempat dansa dilengkapi lampu gantung yang antik. Karena terdiri dari dua ruang, kini dinamakan aula timur dan aula barat. Sebelum terbentuk Provinsi Banten, di antara kedua aula itu terdapat patung badak bercula satu. Patung satwa liar yang dilindungi itu, pada tanggal 17 November 2000 diangkut ke Banten karena wilayah tersebut tidak lagi menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat," (Halaman 8)

Adapula Gedung Pakuan, yang kini menjadi rumah dinas dari Gubernur Provinsi Jawa Barat.

"Gedung Pakuan, tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat tersebut memiliki sejarah panjang karena merupakan tempat persinggahan para kepala negara dan tamu-tamu penting dari berbagai negara yang berkunjung ke Bandung. Bahwa gedung tersebut kemudian dinamakan Gedung Pakuan berasal dari julukan yang diberikan istri RAA Wiranatakusumah V. Sejak dilantik menjadi Wali Negara Pasundan tanggal 24 April 1948, Wiranatakusumah dan keluarganya menempati gedung tersebut. Atas usulan Dalem Istri, kediamannya itu dinamakan Istana Pakuwon atau Pakuan, nama yang diambil dari pusat Kerajaan Sunda Pajajaran di Bogor.

Gedung Pakuan pada awalnya disiapkan untuk kediaman Residen Priangan Van Der Moore yang semula berkedudukan di Cianjur sebagai ibu kota Keresidenan Priangan. Pada tahun 1856, Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud memerintahkan ibu kota keresidenan dipindahkan ke Bandung. Untuk itu, sejak tahun 1864 dibangun gedung yang terletak di ujung utara Pangeran Sumedangweg (kini Jalan Otto Iskandar di Nata). Akan tetapi, Residen Van Der Moore tidak segera melaksanakan perintah. Setelah terjadi letusan dahsyat Gunung Gede sehingga menghancurkan kota tersebut, Van Der Moore dan stafnya mempercepat kepindahannya ke Bandung. Mula-mula ia menempati salah satu bangunan di sisi Grote Postweg seraya menunggu selesai pembangunan tempat kediamannya sampai tahun 1867.

Bangunan dengan gaya Empire Stjil ini merupakan hasil rancangan insinyur Kepala dari Departement van Burgelijke Openbare Werken dibantu Bupati bandung ke-8 RA Wiranatakusumah IV (1846-1874) serta penduduk Babakan Bogor dan Balubur Hilir. (Halaman 19 - 20)

Tak hanya bangunan bersejarah, Buku Wisata Parijs van Java ini pun mengulas tentang tempat wisata di Kota Bandung yang hadir di masa kini. Seperti wisata kuda tunggang, membatik, dan lain-lain. (Yatni Setianingsih/Golali.id)

Data Buku

Judul Buku : Wisata Parijs van Java : Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja
Penulis : Her Suganda
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit : 2011