Resensi Buku Sejarah Kerajaan-Kerajaan Besar di Nusantara


Buku Sejarah Kerajaan – Kerajaan Besar di Nusntara membeberkan tentang sejarah 30 kerajaan besar meliputi sejarah awal, puncak kejayaan, maupun kemunduran dari kerajaan-kerajaan tersebut. Penyebab kemunduran maupun keruntuhan kerajaan ini beraneka ragam, seperti Kerajaan Sriwijaya yang runtuh karena serangan dari kerajaan lain yang berada di Negara India. 

Rajendra Chola I sang raja dari Dinasti Chola yang tinggal di daerah Koromandel (India Selatan) melakukan ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya, yakni pada tahun 1017 dan 1025. Dari ekspedisi tersebut, Rajendra Chola mampu menaklukkan daerah-daerah bawahan Sriwijaya. Sesudah itu, Rajendra Chola berhasil menawan Raja Sriwijaya yang bernama Sangrama Vijayottunggawarman. Beberapa dekade berikutnya, semua daerah Kerajaan Sriwijaya berada di bawah cengkraman kekuasaan Rajendra Chola (Halaman 81).

Selain itu, adapula kerajaan yang hilang karena serangan dari kerajaan lain yang berasal dari dalam negeri, yaitu Kerajaan Kutai Martapura. Kerajaan ini merupakaan kerajaan Hindu tertua di bumi Nusantara yang didirikan oleh Maharaja Sri Kudungga (Cri Gadongga Raja) di tempuran Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Rantau, Muara Kaman, Kalimantan Timur seputar tahun 350.

Pada abad ke-16, Kerajaan Kutai Martapura dikuasai oleh Maharaja Dharma Setia. Semasa pemerintahannya, Kutai Martapura mendapatkan serangan dari Kutai Kartanegara yang beribukota di Kutai Lama (Tanjung Kute) di bawah komando Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Dalam peperangan itu, Maharaja Dharma Setia gugur. Sesudah gugurnya Maharaja Dharma Setia, wilayah Kerajaan Kutai Martapura disatukan oleh Aji Pangeran Anum Panji Mendapa dengan wilayah Kutai Kartanegara. Berakhirnya Kutai Martapura menandai munculnya kerajaan baru, yakni Kutai Kartanegara ing Martadipura (Halaman 83 & 89).

Sementara, jika menilik sejarah Kesultanan Banten, kesultanan ini hancur akibat pertikaian keluarga yang mendapatkan dukungan dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yang bernama Sultan Haji, pada tahun 1680 dimanfaatkan oleh VOC untuk memberikan dukungan kepada Sultan Haji (Sultan Abu Nashar Abdul Qahar), sehingga perang saudara tidak dapat dihindari lagi. Dukungan VOC harus dibayar oleh Sultan Haji dengan memberikan wilayah Lampung pada tanggal 12 Maret 1682. Di samping itu, Sultan Haji harus mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC. Setelah Sultan Haji mangkat pada tahun 1687, VOC mulai mencengkramkan kekuasaannya di Kesultanan Banten (Halaman 158-159).

Tak hanya serangan kerajaan lain atau konflik internal, adapula kerajaan yang hilang akibat bencana alam, yaitu Kerajaan Medang (Mataram Kuna) periode Jawa Tengah. Kerajaan yang didirikan Sanjaya pada tahun 717 ini, pada masa Rakai Sumba Dyah Wawa menjabat sebagai raja, terjadi peristiwa meletusnya Gunung Merapi pada tahun 928. Akibat letusan Gunung Merapi itu, Istana Medang di Bhumi Mataram mengalami kehancuran. Meletusnya Gunung Merapi yang menewaskan Rakai Sumba itu juga menandai berakhirnya Medang periode Jawa Tengah (Halaman 177).

Sedangkan berakhirnya Kerajaan Kahuripan, karena Airlangga sebagai raja memilih menjadi pertapa, pada tahun 1042 Airlangga memutuskan turun takhta. Pada saat itulah, Airlangga berhastrat menobatkan Sanggramawijaya Tunggadewi sebagai raja. Namun menurut Prasasti Cane dan Turun Hyang, hasrat Airlangga itu ditolak oleh sang putri. Sanggramawijaya lebih memilih jalan hidup sebagai pertapa bergelar Dewi Kilisuci. (Halaman 187) (Yatni Setianingsih/Golali.id)


Data Buku 


Judul Buku                      : Sejarah Kerajaan-Kerajaan Besar di Nusantara   
Penulis                            : Sri Wintala Achmad 
Jumlah Halaman             : 312
Penerbit                          : Araska
Cetakan                          : Cetakan I, November 2016
ISBN                              : 978-602-300-319-8