Buku Berkembang dalam Bayang-bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an, menjabarkan tentang sejarah Kota Depok yang sebagian diulas di masa VOC dan mayoritas setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya sejak pemerintah Indonesia mengeluarkan Keputusan Pemerintah Tentang Penghapusan Tanah-tanah partikelir (swasta atau tuan tanah) di seluruh Indonesia melalui Undang-Undang Agraria (Landreform) pada 8 April 1949.
Sejak saat itu pun, kawasan Depok menjadi tanah Negara dan termasuk dalam Kawedanaan Parung, Kabupaten Buitenzorg. Kawedanaan Parung dibagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Parung dan Kecamatan Depok. Pusat kota berada di Pancoran Mas. Pusat kota kecamatan ini sering diidentikan dengan Depok Lama (Sebutan Depok Lama muncul ketika tahun 1976, pemerintah dalam rangka mengurangi beban penduduk (Jakarta), membangun Perumnas, permukiman berskala besar di Depok. Kawasan Perumnas kemudian dikenal sebagai kawasan Depok Baru). (Halaman 62)
Melalui Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 43 Tahun 1981, Depok dikukuhkan menjadi Kota Administratif (Kotif). Pada 27 Maret 1999, status Depok ditingkatkan menjadi Kotamadya Tingkat II berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1999. (Halaman 12)
Menilik kebelakang sebelum kemerdekaan pascaera kerajaan, sejarah Depok dapat dikatakan dimulai pada abad ke-17, ketika daerah itu dimiliki oleh Cornelis Chastelein, pejabat tinggi VOC. (Halaman 2)
Perkembangan Depok berkolerasi dengan Batavia (Jakarta saat ini) yang didirikan pada tahun 1619 sebuah benteng dan pos dagang di wilayah pelabuhan Sunda Kalapa di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Batavia kemudian jatuh ke tangan Pangeran Jayakarta (Kerjaan Banten). Kota dalam tembok itu tidak besar, hanya berukuran 1 km kali 1,5 km. Di kota itu di bangun kanal, rumah-rumah Belanda, gereja, kedai minum, balaikota, jembatan tarik, gudang, dan kincir angin. Di luar tembok, terdapat kawasan pedesaan, yang dihuni oleh berbagai macam etnik. (Halaman 3)
Dalam konteks Depok, proses sejarahnya tidak bisa dipisahkan dengan kota metropolitan Jakarta. Ketika Jakarta membutuhkan ruang permukiman bagi warganya, Depok dijadikan kota satelit yang menjadi wadah bagi pegawai negeri golongan kelas menengah ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa tempat kerja mereka tetap berada di Jakarta. Ini berarti bahwa untuk ke tempat kerjanya mereka harus nglaju setiap hari. (Halaman 8-9). (Yatni Setianingsih/Golali.id)
Data Buku
Judul Buku : Berkembang dalam Bayang-bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an
Penulis : Tri Wahyuning M.Irsyam
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun Terbit : 2017
