Menghimpun bahan tulisan untuk menghasilkan buku-buku sejarah, tak hanya sekedar mengumpulkan fakta yang terverifikasi tetapi juga berkejaran dengan waktu terkait ingatan dan usia dari narasumber.
Hal ini yang dirasakan Hendi Jo, saat menulis Buku Orang-Orang di Garis Depan, yang diterbitkan Matapadi Pressindo pertama kali pada tahun 2018 dan dicetak ulang pada 2019.
Buku Orang-Orang di Garis Depan mengisahkan para pejuang yang terlupakan, padahal berada di garis depan pada revolusi kemerdekaan Indonesia rentang tahun 1945 - 1949.
"Tahun 2005, saya akan menulis tentang sejarah, saya memasuki sejarah kontemporer saat itu. Saya tidak pernah mengandalkan dipesan atau tidak oleh media tempat saya bekerja. Saya menyisihkan waktu untuk menulis sejarah. Pada tahun 2005 - 2010 banyak veteran yang masih hidup, masih sehat fisiknya. Saya wawancara tidak terlalu formal, itu orang-orang yang tidak menyukai wawancara secara formal," kenang Hendi Jo yang memulai meliput berbagai hal terkait sejarah pada saat dirinya menjadi jurnalis magang pada tahun 1999, yang sampai saat ini terus ditekuni sebagai jurnalis senior dan penulis.
"85 persen wawancara lebih bersifat persahabatan, kadang-kadang mereka pendengarannya sudah kurang, ngobrol dengan mereka itu dengan teriak-teriak untuk mendapatkan keterangan itu. Saya membelikan alat pendengaran ke mereka tiap wawancara, tapi mereka tidak nyaman. Saya akhirnya harus teriak-teriak," sambungnya dalam Diskusi Komunitas Temu Sejarah Indonesia secara daring, Kamis 23 Mei 2024 malam.
Dalam menggali informasi dari para narusmber, yang kebanyakan sudah sepuh tersebut Hendi Jo tidak hanya melakukannya satu kali tetapi berkali-kali. Selain itu, sebelum melakukan wawancara sambung Hendi Jo, penulis harus sudah membawa data sebagai sumber acuan untuk mencocokan antara data peristiwa yang sudah diketahui dengan data dari narasumber.
"Saya datang ke mereka tidak satu kali, tapi berkali-kali. Saya datangin, ajak ngobrol. Saya akan ajak ngobrol berapa kali, menggunakan pendekatan sosial, perlakukan sebagai orangtua, kakek kita. Mereka perlu curhat, karena kadang orang sekitarnya sudah bosan dengan ceritanya. Kadang narasumber pun menjagokan dirinya sebagai pahlawan di masa lalu, berbohong. Kitanya harus detail, menilainya dengan hati kita. Kita harus memiliki sumber acuan, kita menguasai materi terkait perang kemerdekaan terkait komandannya, pasukan, senjata yang digunakan. Kita akan konfirmasi (ke narasumber). Lama sekali prosesnya memerlukan waktu, kesabaran, dan energi yang sangat panjang," beber Hendi.
Alasan dirinya, memilih untuk mengangkat tema buku para pejuang yang tidak memiliki label pahlawan nasional ini, karena semangat dan kegigihan dalam berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
"Karena mereka terlibat dalam berbagai pertempuran besar tapi di buku sejarah hanya orang-orang besar seperti Pertempuran Surabaya, Bung Tomo yang keluar (dikenal). Tapi yang mati-matian di medan perang, hanya disebut para pejuang, saya merasa orang-orang ini harus tampil," ungkap Hendi Jo. (Yatni Setianingsih/Golali.id)
Berita ini pertama kali tayang di Golali.id pada 24 Mei 2024
