Slondok adalah makanan ringan atau cemilan tradisional dari Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Slondok terbuat dari singkong, proses pembuatan slondok memerlukan waktu yang cukup lama, namun hal itu sangat sebanding dengan rasa slondok yang enak. Begini resep slondok Bahan resep Slondok Singkong Air Minyak sayur Bumbu halus resep Slondok Garam Bawang putih Cara membuat resep Slondok a) Singkong dikupas lalu dicuci, kemudian diparut, dan ditekan selama satu malam untuk menghilangkan kandungan airnya. b) Kemudian diayak dan diparut kembali menjadi tepung yang kasar c) Tepung kasar diayak supaya menghasilkan tepung yang halus d) Tepung dikukus dan dinginkan selama 3 hari 3 malam e) Tepung yang membata dipotong-potong, setelah itu kemudian digiling dan dibentuk memanjang dan melingkar. f) Selanjutnya dijemur hingga kering setengah matang g) Campur Slondok dengan bumbu halus, dijemur kembali ...
Terkini
Program mingguan KamSara garapan Sindikasi Aksara kembali hadir dengan pendekatan yang lebih emosional dan reflektif.
Edisi ke-19 ini mengangkat pembacaan antologi cerpen Perempuan yang Menulis Langit Dari Bandung sekaligus membahas bagaimana proses kreatif dapat menjadi sarana berdamai dengan pengalaman masa kecil dan trauma yang membentuk seseorang.
Acara yang akan digelar Kamis, 20 November 2025 pukul 19.30–20.30 WIB melalui IG Live @sindikasi.aksara ini mengusung tema “INNER CHILD – Luka yang Tumbuh Bersama Kita.”
Diskusi menyoroti bagaimana luka psikologis yang tidak tertangani sejak kecil dapat terbawa hingga dewasa, dan bagaimana sastra dapat menjadi ruang pengolahan emosi yang aman serta penuh kesadaran.
Dua penulis yang berkontribusi dalam antologi hadir sebagai pembicara: Ginaya Keisya, penulis aktif yang menaruh perhatian pada isu perempuan dan kesetaraan gender, serta Vina Melisk, penulis yang menekuni puisi dan cerpen serta mengembangkan kelas Bahasa Jepang bernama Kyuunihongo.
Keduanya akan berbagi proses kreatif dalam memetakan pengalaman personal ke dalam teks sastra tanpa kehilangan kepekaan rasa maupun kedalaman psikologis.
Ginaya Keisya, yang mengenal dunia seni sejak SMP, menyebut sastra sebagai medium perjuangan dan ruang untuk mengartikulasikan perlawanan. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat relasi kuasa dan pengalaman emosional perempuan. Sementara itu Vina Melisk, yang kini bekerja di sektor korporasi, menunjukkan bahwa kesibukan bukan halangan untuk terus berkarya dan menjadikan penulisan sebagai ruang pemulihan diri.
Diskusi akan dipandu oleh Suci Atmarani, yang dikenal melalui gaya tulisannya yang jujur, kontemplatif, dan dekat dengan tema psikologi perempuan. Kehadirannya diharapkan memperkuat arah dialog seputar sastra sebagai proses penyembuhan batin dan kritik sosial.
Melalui KamSara #19, Sindikasi Aksara mengajak masyarakat sastra dan pembaca umum untuk melihat bahwa menulis bukan hanya aktivitas estetis, tetapi juga praktik mengenali diri, memeluk luka lama, dan memulihkan bagian diri yang selama ini membisu.
Acara dapat diikuti secara gratis melalui siaran langsung Instagram @sindikasi.aksara, tanpa pendaftaran. (Siaran Pers Sindikasi Aksara)
