Slondok adalah makanan ringan atau cemilan tradisional dari Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Slondok terbuat dari singkong, proses pembuatan slondok memerlukan waktu yang cukup lama, namun hal itu sangat sebanding dengan rasa slondok yang enak. Begini resep slondok Bahan resep Slondok Singkong Air Minyak sayur Bumbu halus resep Slondok Garam Bawang putih Cara membuat resep Slondok a) Singkong dikupas lalu dicuci, kemudian diparut, dan ditekan selama satu malam untuk menghilangkan kandungan airnya. b) Kemudian diayak dan diparut kembali menjadi tepung yang kasar c) Tepung kasar diayak supaya menghasilkan tepung yang halus d) Tepung dikukus dan dinginkan selama 3 hari 3 malam e) Tepung yang membata dipotong-potong, setelah itu kemudian digiling dan dibentuk memanjang dan melingkar. f) Selanjutnya dijemur hingga kering setengah matang g) Campur Slondok dengan bumbu halus, dijemur kembali ...
Terkini
Perempuan tak hanya menempati ruang, mereka membentuknya. Dari hutan yang dijaga, ruang hidup yang dirawat, hingga meja redaksi tempat cerita digarap, kepemimpinan perempuan tumbuh dari pengalaman sehari-hari yang kerap sunyi tetapi berdampak panjang.
Kamsara #20 hadir untuk membuka percakapan tentang bagaimana kepemimpinan itu bekerja, menguat, dan memberi arah baru di tengah lanskap yang terus berubah.
Edisi terbaru Kamisan Aksara ini membedah antologi cerpen “Perempuan yang Menulis Langit dari Bandung”, sekaligus mengangkat tema kepemimpinan perempuan di tiga lanskap: ekologi, sosial, dan media.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber: Suci Atmarani, penulis yang menggunakan sastra sebagai cara meresapi dan mempertanyakan isu-isu perempuan; Sukmawati, pegiat literasi aktif di Forum Lingkar Pena dan penggerak program #22HariBacaBuku; serta Salma Nur Fauziyah, jurnalis independen dari BandungBergerak sekaligus penggiat literasi di Perpustakaan Bunga di Tembok. Diskusi akan dipandu oleh Nuzulia Purwanto, petani urban dan penulis yang konsisten menyuarakan isu ketahanan pangan keluarga.
Melalui KAMSARA #20, peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan perempuan tidak hanya hadir dalam bentuk keputusan strategis, tetapi juga dalam tindakan merawat: merawat ruang hidup, merawat relasi sosial, dan merawat pengetahuan. Pendekatan yang berakar pada empati, keberlanjutan, serta keberanian mendefinisikan ulang ruang inilah yang menjadi benang merah diskusi.
Acara akan diselenggarakan pada Kamis, 27 November 2025, pukul 19.30–20.30 WIB melalui IG Live @sindikasi.aksara.
Publik dipersilakan bergabung dan ikut menyimak bagaimana pengalaman, suara, dan pandangan para perempuan ini membuka jalan baru bagi kepemimpinan yang lebih inklusif dan humanis.(Siaran Pers Sindikasi Aksara)
