Suheri Kiswanto atau akrab disapa Heri, mengawali bisnisnya sebagai reseller produk alas kaki dari brand lain, Heri terinspirasi dan percaya, dirinya juga mampu memulai bisnis di ranah tersebut. Pada tahun 2019, Heri mulai membuat konsep ANT Project dan meluncurkan brand -nya di awal tahun 2020 silam, satu bulan sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pemilihan ANT sebagai nama brand , terinspirasi dari semut ( Ant dalam bahasa Inggris) sebagai binatang kecil namun pekerja keras dan suka bergotong-royong untuk mencapai tujuannya. Filosofi ini pula yang ingin ia bangun sebagai visi dan misi dari ANT Project. Awalnya proses produksi pun masih dilakukan secara sederhana, dimana Heri menggunakan bantuan vendor produksi rumahan dan dibantu oleh 5 orang karyawan. “Pada saat pandemi, kami merasa pesimis karena kondisi ekonomi yang tidak pasti. Apalagi sebagai pemilik bisnis yang baru merintis. Namun kami terus gigih dan mencoba beradaptasi mengikuti perilaku masyarakat yang berubah deng...
Terkini
![]() |
| Owner Slava, Bhainil Makhin (kanan) dan Muhamad Yunus (kiri) |
Slava, produsen sepatu dan sandal anak dari Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat (Jabar) mulanya pada tahun 2015 hanya menerima pembuatan sepatu dan sandal untuk dewasa dari perusahaan lain (maklon). Namun akibat kondisi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada awal tahun 2020, berimbas pada penurunan proyek maklon.
Pendiri sekaligus Owner Slava, Bhainil Makhin pun memutar otak supaya tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan dan Slava pun terus bertahan. Akhirnya Bhainil pun membuat produk sendiri berupa sepatu untuk orang dewasa. Bhainil pun memasarkan produknya secara online di platform e-commerce Shopee yang ditangani Muhammad Yunus, Owner sekaligus Marketing Slava.
“Dari 2015-2019 maklon, sekarang masih tapi lebih banyak sendiri. Imbas dari Covid-19 membuat produk sendiri,” ungkap Bhainil Makhin kepada Golali di tempat produksi Slava, Jalan Katapang Wetan No 36, Desa Pangauban Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat (Jabar), Rabu 16 April 2025.
Hasil dari pemasaran secara online, saat itu masih berjalan landai. Pada tahun 2022, Slava mencoba membuat sepatu dan sandal anak dengan model meniru desain sepatu dan sandal untuk orang dewasa. Slava pun memasarkan sepatu dan sandal untuk dewasa dan anak-anak di Shopee.
“Hasilnya lebih banyak yang membeli sepatu dan sandal anak,” sambung Muhamad Yunus sumringah.
Tingginya minat konsumen pada produk sandal dan sepatu anak, membuat Bhainil dan Yunus terus menggali keinginan konsumen setiap meluncurkan produk dari sisi desain dan warna yang baru.
Optimalkan penjualan online
Untuk meningkatkan branding dari Slava yang berefek pada peningkatan penjualan di Shopee, Slava pun mengikuti berbagai fitur dan kampanye dari Shopee.
“Pada tahun 2022, kami mengikuti Big Ramadan Sale Shopee, hasilnya terus kami rasakan setiap momen Ramadhan. Hal ini membuat konsumen kenal dengan produk Slava,” tambah Yunus.
Selain itu kata Bhainil, Slava pun menggunakan Shopee Live untuk menarik konsumen membeli produk-produknya.
“Kami memiliki tim khusus untuk Shopee Live, hal itu meningkatkan pada penjualan produk,” imbuh Bhainil.
Rata-rata kata Bhainil, Slava mampu menjual 2.000 hingga 3.000 pasang sepatu dan sandal per bulan.
“Ramadhan tinggi, 10 ribu pasang sepatu anak,” ucap Bhainil.
Saat ini pemasaran produk Slava melalui Shopee, telah mencapai seluruh Indonesia. Hal ini menjadi alasan Slava memilih Shopee untuk pemasaran secara online.
“Shopee kolamnya (penggunanya) lebih banyak (dibandingkan e-commerce lain). Dan banyak digunakan ibu-ibu,” ucap Bhainil dan Yunus.
Dalam memperkuat pemasaran secara digital, di mana konsumen memiliki keterbatasan dalam meraba dan mencoba produk yang akan dibeli. Slava berupaya menghadirkan etalase digital semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi aslinya, baik melalui video maupun foto yang dihadirkan.
“Kuatkan etalase toko, foto (visual) menjadi konsen utama dan aset, foto katalog resolusi bagus, jika belum punya foto yang bagus kita kerja sama dengan agensi untuk membuat foto produk,” kata Yunus.
Bhainil mengaku tidak mau mendapatkan konsumen lewat perang harga, namun memilih untuk memproduksi sandal dan sepatu dengan kualitas yang sesuai harga dan pelayanan yang optimal.
Harga dari produk Slava mulai dari Rp135 ribu sampai Rp200 ribu per pasang. Produk Slava menyasar anak-anak mulai dari usia satu tahun sampai 13 tahun, ukuran sepatu dan sandal di Slava mulai dari 22 hingga 35.
“Bahan baku yang digunakan salah satunya double jersey, bahan lebih lembut karena untuk anak. Kita ada garansi 30 hari. Dan bonus kaos kaki,” kata Bhainil.
Adapun produk sepatu dan sandal yang dihadirkan Slava antara lain sepatu untuk sekolah, sandal gunung, hingga sandal dan sepatu untuk sehari-hari.
Bhainil mengaku hambatan terbesar dari pengembangan bisnisnya yaitu dari sisi permodalan. Saat ini Slava mampu menyerap 35 orang tenaga kerja, yang berasal di sekitar Kabupaten Bandung.
“Hambatan di modal, tidak pakai pinjaman bank, kita organik saja. Jika ada investror kita welcome," tutup pria asal Magelang, Provinsi Jawa Tengah ini. (Yatni Setianingsih/Golali.id)
Berita ini pertama kali tayang di Golali.id pada 18 April 2025
