(dok : Erajaya Digital) Cuaca mendung yang diakhiri dengan hujan gerimis saat sampai di garis finish , tak menyurutkan semangat 300 orang berlari mengikuti Epic Run 2025 with Galaxy Watch8 Series berlangsung pada Minggu pagi, 7 Desember 2025 yang memiliki garis star dan finish di Trans Studio Mall Bandung, Jalan Gatot Subroto Kota Bandung. Epic Run 2025 with Galaxy Watch8 Series ini adalah ajang fun run sejauh 5 kilometer. Sebanyak 300 orang pelari ini berasal dari komunitas lari RIOT Bandung, pengguna Samsung, dan masyarakat umum. Adapun rute lari Epic Run 2025 with Galaxy Watch8 Series yaitu : Trans Studio Mall Bandung (Jalan Gatot Subroto) - Jalan Pelajar Pejuang 45 - Jalan Martanegara - Jalan Turangga - Trans Studio Mall Bandung. "Olahraga merupakan salah satu cara paling sederhana untuk menjaga kesehatan tubuh dan mental. Melalui Epic Run 2025, kami ingin mengajak masyarakat Bandung untuk bergerak lebih aktif sekaligus merasakan bagaimana teknologi seperti Gala...
Terkini
![]() |
| (dok : Instagram Balawan) |
Kecintaannya pada musik sejak kecil, membuat Balawan menguasai berbagai jenis alat musik. Baik itu alat musik tradisional Bali seperti gamelan, maupun alat musik barat yaitu gitar.
“Sejak anak-anak senang bermain gamelan. Umur 8 tahun tertarik dengan gitar,” cerita Balawan memulai obrolan dalam Sikje Diskusi ke #41 secara online, Kamis 9 September 2021.
Awal mula pemilik nama lengkap I Wayan Balawan menyukai gitar, ketika kakak perempuannya bersama teman-temannya sering bermain gitar di halaman rumahnya di Bali.
“Guru pertama saya bermain gitar kakak perempuan saya, belajar secara otodidak. Sama temen-temennya banyak main gitar,” ungkap Balawan.
Selain kakak perempuannya, Balawan pun suka memerhatikan kakak laki-lakinya yang menyukai musik rock hobi bermain gitar.
“Kakak laki-laki saya hobi musik rock seperti (band) Scorpion, yang paling praktis dipraktekan di gitar,” imbuh Balawan.
Pria kelahiran 9 September tahun 1972 ini, mengaku sudah membentuk band sendiri pada tahun 1986 membawa lagu dari band Scorpion.
Setelah lulus SMA, Balawan kuliah di Sydney Australia untuk memperdalam permainan gitar terutama musik jazz.
“Jazz mulai tumbuh, ingin angkat gamelan Bali, sepulang dari kuliah angkat musik etnik dengan nama Batuan Ethnic Fusion,” cerita Balawan.
Ditolak Label Mayor Berkali-kali
Sebelum dikenal seperti sekarang sebagai salah satu gitaris ternama di Indonesia, Balawan pernah ditolak berkali-kali oleh berbagai label mayor di Jakarta.
Namun, Balawan tidak pantang menyerah, dia memilih untuk mengembangkan idealismenya dalam bermusik.
Terus mengasah kemampuannya, termasuk bermain gitar double neck dan teknik bermain gitar touch tapping style.
“Dulu tahun 1999 saya muncul di Indonesia, di undang Indosiar dalam acara Pesta, bukan sebagai musisi tetapi akrobat gitar dua gitar, satu di atas meja satu digendong,” Balawan mengisahkan.
Balawan mengaku tidak kesulitan melakukannya, karena sudah terbiasa bermain gamelan Bali, di mana satu pemusik dapat memainkan berbagai instrumen musik dalam waktu bersamaan.
“Saya suka menchallenge bikin diri kita susah, punya imajinasi dan target tertentu,” ucap Balawan.
Selain menghasilkan berbagai karya musik yang mendunia, Balawan pun mendirikan Balawan Music Traning Center (BMTC) pada tahun 2013.
Makin Produktif Saat Pandemi Covid-19
Jika banyak musisi yang kehilangan pekerjaannya, sejak pandemi Covid-19. Beda ceritanya dengan Balawan, dia malah semakin produktif meskipun kerja dari rumah.
“Pandemi Covid-19 banyak live lewat instagram (@balawanguitar). Setiap tiga bulan bikin single, 17 September 2021 ini launching single,” kata Balawan.
“Selama pandemi ini bikin lagu anak-anak dan jingle. Malah sibuk susah ngatur waktu. Dulu bikin soundtrack untuk hotel, iklan tahun 2000, sekarang balik lagi," bebernya.(Yatni Setianingsih/Golali.id)
Berita ini pertama kali tayang di Golali.id pada 16 September 2021
